Ribuan Santri PP. Nurus Salam Lodoyo Upacara Hari Santri, Abah Agus: Santri Harus Memiliki Semangat

Diperbarui: 21 Nov

SUTOJAYAN – Sabtu (22/10) pagi, ribuan santri dan segenap ustadz/ustadzah Pondok Pesantren Nurus Salam melaksanakan upacara apel untuk memperingati Hari Santri Nasional tahun 2022 di Lapangan Kedungbunder, Sutojayan. Apel yang berjalan lancar dan khidmad tersebut dipimpin langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurus Salam, KH. Agus Muadzin, M.Pd.I.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Agus, sapaan KH. Agus Muadzin, M.Pd.I., mengajak seluruh peserta upacara untuk mengenang jasa para pahlawan, masyayikh, dan syuhada’ dengan cara mensyukuri keadaan saat ini. Beliau juga menceritakan kembali sejarah kelam penjajahan serta dampaknya terhadap bangsa Indonesia.

“Begitu lamanya negera kita dijajah oleh Belanda. Di mana negera dijajah oleh Belanda, maka yang muncul dari daerah jajahan Belanda (adalah) masyarakat yang ketakutan, masyarakat yang dalam kebodohan, dan masyarakat yang dalam kemlaratan,” tutur beliau.


Beliau juga menceritakan bahwa betapa besarnya ikhtiyar perjuangan yang dilakukan oleh masyayikh dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat itu hingga mencetuskan Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.

“Pada tanggal 21-22 Oktober, ulama’-ulama’ besar se-Jawa dan Madura pada saat itu berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng untuk memusyawarahkan penjajahan yang akan masuk lagi di Indonesia . Kemudian (pada tanggal 22 Oktober), muncullah apa yang kita kenal dengan Resolusi Jihad yang memfatwakan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia wajib dipertahankan.”

Abah Agus berpesan kepada seluruh santri agar memiliki semangat Resolusi Jihad karena cobaan santri saat ini sangat berat. Santri-santri harus bersiap untuk menghadapi dan melawan tiga hal, yakni Gerakan Islam Transnasional, dunia medsos, dan generasi ‘Taarikus Sholah’.

“Tidak hanya Islam Transnasional. Kalian dihadapkan pada cobaan yang luar biasa, yaitu dunia medsos yang tidak bisa kita hindari. (Ditambah) karena pengaruh lingkungan yang tidak kondusif (dan) situasi yang tidak kondusif, sudah mulai banyak generasi kita (saat ini yang) ‘Taarikus Sholah’ (meninggalkan sholat). Ketika ‘Taarikus Sholah’ sudah dikerjakan, maka fahsya’ dan mungkar akan dekat dengan siapapun yang meninggalkan sholat,” tandas beliau. (nusa/amf)

20 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua